Menteri P2MI Targetkan Kirim 40.000 Pekerja Migran Terampil pada 2026
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menargetkan penyerapan dan pengiriman sebanyak 40.000 tenaga kerja terampil secara nasional sepanjang tahun 2026 melalui program percepatan (quick win) SMK Go Global.
Dari total target nasional tersebut, Provinsi Jawa Barat mendapatkan alokasi khusus sebesar 7.000 peserta yang diproyeksikan tuntas pada akhir tahun ini. “Target penyerapan tahun 2026 itu 40.000 secara nasional. Tapi untuk Jawa Barat sebesar 7.000 sekian dan insya Allah target ini akan selesai Desember 2026. Tahun depan targetnya akan lebih besar lagi,” kata Mukhtarudin usai meresmikan Migrant Center dan meninjau SMK Go Global di UTB Bandung, Jumat (9/10/2026).
Fokus penyiapan talenta dari hulu
Program prioritas nasional yang merupakan instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto ini difokuskan pada penguatan ekosistem dari sisi hulu. Penyiapan talenta mencakup:
- Skill teknis: pelatihan manufaktur, hospitality, kesehatan, dan operator produksi.
- Penguasaan bahasa asing seperti Bahasa Jepang dan Bahasa Inggris.
- Uji kompetensi sebelum pemberangkatan.
Negara tujuan formal
Para pekerja terampil akan ditempatkan pada sektor formal di negara mitra yang telah menjalin kerja sama resmi. Negara yang disebutkan antara lain Malaysia, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, Turki, Jerman, Albania, Slovakia, Polandia, Bulgaria, Italia, serta sebagian besar negara Timur Tengah. Semua merupakan negara yang kondusif dan bukan negara konflik.
Target jangka panjang hingga 2029
SMK Go Global menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran terampil hingga 2029, dengan tahapan: 40.000 pada 2026, 140.000 pada 2027, 180.000 pada 2028, dan 140.000 pada 2029.
Pesan PT Nexfora Global Indonesia
Target ini sejalan dengan fokus Nexfora pada kesiapan kompetensi sebelum penempatan. Calon pekerja yang ingin memanfaatkan peluang 2026 sebaiknya mulai dari pemetaan bahasa dan sertifikasi yang sesuai demand negara tujuan.
Ringkasan diolah dari pemberitaan ANTARA, 9 Oktober 2026. Bukan salinan artikel asli.